Saturday, September 15, 2007

Mau jadi Penerjemah? Yah, Kira-Kira Beginilah Caranya (2)

Oleh Berliani M Nugrahani

Oke, tibalah kita pada langkah kedua. Langkah pertama sudah dimengerti, bukan? Nah, pembahasan berikut ini ditujukan untuk siapa pun yang ingin memulai karier menjadi penerjemah. Ready? Let's go!

Pada dasarnya, untuk mendapatkan proyek penerjemahan, hanya ada dua macam amunisi yang dibutuhkan. Yang pertama adalah surat lamaran dan CV yang meyakinkan, dan yang kedua adalah sampel terjemahan yang paten. Karena dua hal ini saling menunjang, maka kita harus betul-betul mempersiapkannya dengan baik. Bagaimana caranya? Beginilah ….

Surat Lamaran dan CV

Tentang surat lamaran, nggak usah dibahas mendalam, kali ya. Aku yakin para pencari kerja pasti sudah familier dengan surat kasih sayang ini. Surat lamaran boleh ditulis menggunakan bahasa Indonesia ataupun bahasa Inggris, terserah. Yang penting, perhatikan sebaik mungkin seluruh ejaan dan penampilannya. Harus rapi dan bersih dari kesalahan. Satu yang harus selalu diingat, jangan sekali-kali menulis kata PENTERJEMAH dalam surat lamaran. Please deh, kalau aku jadi editornya, satu kata itu akan langsung membuatku berhenti membaca dan mencoretkan tanda silang ke bundel surat, CV, dan sampel yang malang.

Bagaimana dengan CV-nya? Tentu saja isinya harus disesuaikan dengan profesi ini, dong. Cantumkanlah semua hal yang kira-kira akan membuat seorang editor terkesan. Kebanyakan editor adalah kutu buku berdedikasi. Maka, untuk membuat mereka terkesan pun gampang sekali. Sebisa mungkin, perlihatkanlah bahwa kita juga makhluk yang sejenis dengan mereka (baca: kutu buku). Cantumkan semua prestasi yang berhubungan dengan penulisan, penguasaan bahasa asing, dan penguasaan bahasa Indonesia. (Misalnya: pernah punya pengalaman dalam penerjemahan, pernah punya artikel / esai / cerpen / resensi / whatever yang dimuat di media, pernah jadi juara lomba menulis, punya blog buku, dll.) Intinya, CV kita harus membuat si editor menyadari betapa potensialnya kita. Betapa kita pandai menulis dan gemar membaca. Ingat, yang sedang kita tembus adalah dunia perbukuan. Jadi, prestasi-prestasi yang nggak bisa disambung-sambungkan dengan buku, sehebat apa pun, nggak penting buat disebutkan.

Penampilan CV juga harus mengesankan, dong. CV harus diketik rapi dengan komputer. Hari gini gitu loh, jangan ditulis tangan atau pakai mesin tik. Kenapa? Yah, karena dalam mengerjakan proyek penerjemahan, penguasaan ilmu mengetik dengan komputer adalah hal yang mutlak. Lalu, ingat selalu bahwa industri buku adalah industri kreatif (apalagi kalau yang sedang kita sasar adalah bidang penerjemahan novel atau buku-buku populer). Maka, kita juga harus kreatif. Tunjukkan hal itu dalam CV. Misalnya, pasang foto yang keren (ayo, silakan lirik headshotku), jangan pasfoto tegang kayak di ijazah. Intinya, tuangkanlah sebanyak mungkin aura kekerenan kita dalam CV, karena inilah alat jualan kita. Kalau CV kita payah, si editor tidak akan tertarik untuk membaca sampel terjemahan kita.

Sampel Terjemahan

Beres dengan CV, saatnya kita memikirkan si senjata pamungkas, (ayo, bunyikan drumnya!) yaitu Sampel Terjemahan. Inilah dia, satu hal yang akan menentukan nasib kita dalam dunia penerjemahan. Pada dasarnya, sampel terjemahan adalah alat untuk memamerkan kemampuan kita dalam menerjemahkan. (Bedakan dengan CV, alat untuk memamerkan kekerenan.) Nah, aku runut saja hal-hal yang penting diperhatikan dalam membuat Sampel Terjemahan:

* Harus sesuai dengan bidang penerjemahan yang kita mau. Kalau ingin menerjemahkan novel, sampelnya ya novel. Begitu pula buat yang lain, misalnya buku how-to, buku sains, buku agama, dll.

* Jangan terlalu panjang. Sebaiknya sampel ini memiliki panjang 3-5 halaman, meskipun biasanya si editor hanya akan sempat membaca tiga halaman. Maka, pilih baik-baik teks yang akan dijadikan sampel. Jangan menerjemahkan teks yang tidak menarik. (Baca: novel ecek-ecek, artikel ecek-ecek, esai ecek-ecek, dll.)

* Ketiklah sampel dengan rapi. Ingat lagi, sebagai pekerja buku, kemampuan mengetik dengan baik sangat mutlak diperlukan. Gunakanlah font yang wajar dengan ukuran yang terbaca, lalu ketik dengan spasi ganda.

* Selalu baca ulang terjemahan kita. Saat membaca ulang ini, singkirkanlah teks asli jauh-jauh. Posisikan diri kita sebagai pembaca. Jangan ragu-ragu untuk mengedit setiap kalimat yang tidak masuk akal, baik dari segi susunan maupun makna. Kuncinya, jangan sampai terjemahan kita menyimpang dari teks asli, tapi juga jangan terlalu terpaku padanya. (Ingat pembahasan tentang nyawa teks dalam Step One.)

* Selalu cek ulang tulisan kita. Jangan sampai ada kesalahan ejaan, kesalahan ketikan, dan kesalahan-kesalahan lainnya.

* Nah, kalau semua urusan sampel ini sudah beres, maka siaplah kita.

Dikirim Ke Mana?

Ya ke penerbit dong, ke mana lagi? Alamat penerbit biasanya bisa didapatkan di buku yang mereka terbitkan. Nah, lamaran bisa kita kirim via pos maupun e-mail. Jangan lupa untuk menyertakan teks asli yang digunakan sebagai sampel. Kalau lamaran dikirim via e-mail, sebaiknya teks aslinya di-scan saja.

Oh, Iya ….
Dalam postingan sebelumnya, di bagian reply sempat disinggung-singgung mengenai iklan jasa penerjemahan (ingat, jangan bilang PENTERJEMAHAN) di milis. Bagaimana, apakah beriklan di milis merupakan tindakan yang tepat untuk dilakukan? Hmm, yah, kalau aku menjadi editor, aku malah nggak akan tertarik tuh, dengan iklan seperti itu. Jadi, mendingan melamar saja deh ….

Baiklah, sekian dulu kuliah kita kali ini. Selanjutnya, dalam langkah ketiga, kita akan membahas tentang hal-hal yang lebih menentukan masa depan (dengan asumsi lamaran kita diterima, gitu). Okay, sampai bertemu lagi!!

* Dilink dari blog Mizz Antie, penerjemah yang sok sibuk.

6 comments:

nunu said...

Mba Berliani, terima kasih ya atas artikelnya yang sangat menarik.
Terus terang, saya sangat ingin menjadi seorang penerjemah..bahkan saat ini saya ingin mendaftarkan diri ke pelatihan penerjemah di UI, dengan harapan bisa mendapatkan gambaran tentang profesi tersebut.

Oya, apa Mba Berliani bisa meluangkan waktu untuk menjadi mentor bagi pemula seperti saya? Kalau Mba berkenan, bagaimana saya bisa menghubungi Mba?

Terima kasih.

Gus said...

Nunu, pesan Anda sudah I:BOEKOE sampaikan kepada mbah penerjemah yang keren abis itu. Dia memang mengaku penerjemah keren.....

nunu said...

hahaha..sumpah deh..bagi sy orang yg kaya pengalaman (spesialis) dan mau berbagi dengan pemula itu..adalah keren banget!! regenerasi...gak pelit...hehehe..mudah2an pesan sy bisa ditindak lanjuti yaaa..trims mas..

mizz antie said...

hihihi... rupanya aku diomongin di sini... :D

buat nunu, ayo jadi penerjemah. kuncinya latihan saja terus. kalau ada pertanyaan silakan e-mail saja ke bookergal@gmail.com. thanks yaaa :D

Gus said...

Nunu, maksud Bu Berliani dengan nasehatnya "kuncinya latihan saja terus", adalah "untuk bisa naek sepeda, ya naek sepeda terus". soalnya kan begini Nunu, apa tak ada aturan khusus untuk naek sepeda. misalnya, satu kaki di pedal, satu di tanah. terus kayu sekali, kalau jatuh ya berdiri saja. nah, mulainya belajar sepeda boleh nggak langsung njajal jalan sudirman atau thamrin jakarta pusat atau dimulai dari lapangan di sebuah desa terpencil pekalongan. hehehehehe.

Dina Begum said...

Artikel yang top banget!
Selain berlatih, baca buku sebanyak-banyaknya dan membangun jaringan. Sebagai pekerja lepas, membangun jaringan itu sangat penting. :)