Thursday, April 23, 2009

Bisakah "Hidup" dengan Menulis? Bisakah Hidup "Tanpa" Menulis?

Oleh Eka Kurniawan

Yang saya maksud bukan pekerjaan yang penulisnya memperoleh upah bulanan dari perusahaan: katakanlah wartawan atau copy editor di perusahaan iklan. Yang saya maksud adalah, bisakah "hidup" hanya menjadi penulis tanpa terikat kepada perusahaan tertentu. Artinya, penulis bisa bekerja dimana saja, untuk siapa saja, dan bahkan, menulis apa yang disukainya saja -- dan ia dibayar per tulisan yang dibuatnya?

Benar, ini sudah sangat sering ditanyakan. Saya akan mencoba menghitung-hitung (untuk ukuran Indonesia), juga sedikit membocorkan resep-resep yang dilakukan beberapa teman saya (yang memang bisa dikatakan sebagai "penulis penuh waktu").

Pertama-tama, saya mengasumsikan menjadi penulis penuh waktu berarti enggan untuk hidup di ruang dan waktu tertentu (bekerja di kantor dari pukul 9 sampai 5 sore). Sering saya mendengar keluhan teman-teman (yang masih ngantor) bahwa mereka, "Tak punya waktu memadai untuk menulis."

Tentu saja problem ini tidak berlaku untuk semua orang. Penulis seperti Kurnia Effendi, nyatanya bisa tetap produktif menulis sementara ia tetap bekerja (yang juga menyibukkan) di satu perusahaan otomotif. Tapi baiklah, kita asumsikan, berkonsentrasi penuh kepada penulisan barangkali jauh lebih baik daripada harus membagi perhatian dengan pekerjaan lain. Paling tidak itu berlaku bagi saya. Terakhir kali saya bekerja (kantoran) lebih dari dua tahun lalu sebagai editor naskah di satu rumah produksi. Ketika saya memutuskan untuk menulis novel baru, saya merasa membutuhkan waktu yang lebih luang: maka saya berhenti bekerja (kantoran).

1. Untuk Apa Menulis?
Pertama-tama, mari bertanya dulu: untuk apa saya menulis? Pertanyaan ini bisa diajukan untuk profesi apa pun. Kakek saya (ia baru saja meninggal belum lama ini), menanam padi untuk dimakannya sendiri (dibagi-bagikan ke keluarga anak-anaknya); sementara petani lain menanam padi untuk dijual. Tentu saja kakek saya tak mungkin berharap memperoleh penghasilan sebagaimana petani komersial (meskipun bisa saja salah satu anaknya mengirimi ia uang lebih banyak daripada seandainya beras yang ia hasilkan dijual ke cukong).

Begitu pula penulis: ada penulis yang memang menulis untuk mencari uang, di sisi lain ada penulis yang sama sekali tak memedulikan uang (saya menghindari kata "idealis", sebab penulis yang menulis untuk mencari uang juga tidak bisa dikatakan "tidak idealis" -- jujur saja, kata ini sangat rancu dan perlu dibedah aspek filosofisnya, hehehe). Berdasarkan maksudnya, tentu saja tulisan ini dimaksudkan untuk penulis yang ingin memperoleh penghasilan dari tulisannya.

2. Menjual Tulisan
Semua orang tahu, secara kasar, semakin banyak orang yang suka dengan karya seseorang, maka semakin besar kemungkinan ia memperoleh penghasilan. Ini hukum pasar yang sederhana saja.

Belajar dari para penjual yang baik, ada dua kemungkinan seorang penulis bisa menjual tulisannya.

Pertama: menulis apa yang sekiranya disukai oleh kebanyakan pembaca. Pergi ke toko buku dan cari buku yang best-seller. Atau baca surat kabar dan majalah, dan cari tahu tulisan seperti apa yang disukai surat kabar atau majalah tersebut. Artinya, penulis menyesuaikan "selera"nya dengan selera pasar (bisa pembeli buku atau redaktur, atau klien lain).

Kedua: Jika risih dengan pilihan pertama (meskipun bagi saya kualitas karya tak ada hubungannya dengan pilihan pertama atau kedua), alternatif lainnya adalah: menulis apa dan dengan cara yang disukai saja, tapi bikin pembaca menyukainya. Artinya, penulis berupaya membuat "selera" pembaca mengikuti "selera" penulis. Pilihan ini membutuhkan strategi pemasaran, tentu saja.

Tentu saja yang paling gampang adalah, jika "kebetulan" selera penulis dan pembaca umum sama. Yang ini anggap saja anugerah Tuhan!

3. Berapa?
Jika seorang penulis sudah memutuskan ia ingin memperoleh penghasilan dari tulisannya, juga sudah memilih apakah ia akan menyesuaikan selera tulisannya dengan selera pembaca atau membuat selera pembaca mengikuti seleranya, ia bisa mulai bertanya: berapa yang bisa ia peroleh dari tulisan? Beberapa teman saya yang masih pemula sering menanyakan hal ini, dan itu wajar sebab ia tak ingin penghasilannya tiba-tiba drop (maklum ia harus menghindari kemarahan istri dan kerewelan anak yang minta uang saku).

Sejauh ini, ada beberapa cara memperoleh uang dari tulisan yang sudah umum, dan penghasilan yang diperoleh juga tergantung dari hal itu:

Pertama, menulis buku. Pada umumnya, penghasilan dari penjualan buku untuk penulis adalah royalti sebesar 10% dari harga buku (bisa kurang bisa lebih, tergantung negosiasi). Bayangkan jika seorang menulis buku cerita yang sangat digemari: bukunya terjual katakanlah 15.000 kopi dengan harga Rp. 30.000,-. Itu artinya ia memperoleh Rp. 30.000 x 15.000 x 10% = Rp. 45.000.000. Jika ia menulis 2 buku setahun, penghasilannya Rp. 90.000.000 setahun (hayo, jangan lupa bayar pajak penghasilan). Penulis mestinya bisa memperkirakan secara kasar, kira-kira berapa banyak bukunya bisa terjual. Dengan cara itu, penulis juga bisa memperkirakan penghasilannya. Tidak bisa memperkirakan? Sebagai gambaran, buku puisi (dengan sedih harus saya katakan), barangkali hanya bisa terjual 1000 kopi (menurut yang saya dengar dari beberapa penerbit) dengan harga rata-rata tak lebih dari Rp. 20.000. Silakan menghitung sendiri.

Kedua, menulis untuk media massa. Secara umum, penghasilannya sangat tergantung dari medianya. Sebagai gambaran, honorarium tulisan di Kompas berkisar antara Rp. 500.000 hingga Rp. 2.000.000. Koran Tempo rata-rata Rp. 850.000. Majalah seperti Playboy membayar cerita pendek saya Rp. 2.000.000. Majalah Esquire dan Java Kini membayar tulisan Rp. 1.000.000. Tapi jangan dilupakan, masih ada surat kabar lokal yang barangkali hanya membayar tulisan Rp. 100.000. Katakanlah, kita membuat rata-rata setiap media membayar Rp. 500.000. Untuk memperoleh penghasilan Rp. 3.000.000 setiap bulan, seorang penulis hanya perlu menulis 6 tulisan per bulan. Ia bisa menulis cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, bahkan catatan perjalanan! Banyak hal bisa ditulis. Sebagai tambahan: bagi yang gemar makan, bisa menulis catatan kuliner. Bagi yang menyukai gossip, menulis tentang gaya hidup. Apa pun bisa ditulis, kan? Bahkan kalau menulis cerita bersambung, honornya bisa sekitar Rp. 200.000 per pemuatan (kalikan saja, jika dimuat selama 365 hari!) atau dibayar rata sebesar Rp. 10.000.000. Hmm ...

Ketiga, menulis untuk televisi. Untuk penulis yang malas bekerja di kantor tapi tak keberatan dengan tekanan kerja dan jadwal deadline, menulis naskah untuk acara televisi bisa menjadi pilihan yang menyenangkan. Seperti sudah saya bilang, saya pernah bekerja sebagai editor naskah di satu rumah produksi, karena itu saya bisa dikatakan tahu penghasilan para penulis naskah televisi (tapi saya tak akan menyebut nama-nama penulisnya, sebab ini menyangkut rahasia dapur mereka). Honorarium dihitung per episode acara: untuk pemula barangkali Rp. 1.000.000 per episode, untuk yang sudah punya nama bisa sampai Rp. 10.000.000 (jangan lupa bayar pajak juga! hehe) per episode. Biasanya ini berlaku untuk sinetron. Hitung sendiri, jika sinetron itu ditayangkan per minggu! Hitung pula berapa jika sinetronnya ditayangkan 4 hari dalam satu minggu seperti sering terjadi sekarang-sekarang ini! Jangan heran kalau penghasilan penulis jauh melebihi penghasilan editornya, hehe.

Menulis untuk televisi tak hanya berarti menulis naskah sinetron. Hampir setiap acara pasti membutuhkan penulis. Saya sendiri pernah menulis naskah untuk acara jalan-jalan memperkenalkan produk. Lumayan, kerjanya jalan-jalan masuk ke toko-toko di mall. Naskahnya cuma satu halaman ketik. Honornya Rp. 1.000.000 per naskah. Lumayan, kan?

4. Beberapa Alternatif Lain
Kebanyakan penulis menggabungkan semua itu untuk menambah penghasilan mereka. Seorang teman penyair (nama tidak usah disebut, ya), yang barangkali tidak bisa mengharapkan royalti daru dua buku puisinya, menulis artikel di surat kabar paling tidak 5 kali dalam sebulan. Ia juga menjadi pembicara berbagai acara diskusi penulisan (honornya dari Rp 500.000 hingga Rp. 2.000.000) yang bisa dilakukannya paling tidak sekali sebulan.

Alternatif lain? Menjadi penulis hantu (ghost writer). Banyak public figur yang ingin menulis untuk menambah-nambah reputasinya. Kebanyakan dari mereka mungkin benar-benar tidak bisa menulis, beberapa di antaranya tak punya waktu untuk menulis. Mereka biasanya menyewa penulis hantu, yakni menyewa penulis untuk menulis atas nama si public figur. Bisa sekadar artikel untuk media massa, bisa pula menulis buku. Honornya tergantung negosiasi.

Dan jangan dilupakan kemungkinan untuk menulis naskah teater (saya belum pernah melakukannya, tapi lagi mau belajar dengan anak-anak Taeter Garasi), menulis lirik lagu, menulis press release (banyak perusahaan tak bisa menulis release dengan baik, juga tak memiliki kontak dengan media), atau menulis company profile. Ada juga kemungkinan memperoleh penghasilan tambahan jika karyamu meraih penghargaan (karya terbaik Khatulistiwa Literary Award mencapai Rp. 100.000.000). Atau cobalah mengirim aplikasi untuk residensi atau felowship (novel pertama saya, Cantik itu Luka, ditulis dengan grant dari Akademi Kebudayaan Yogyakarta).

5. Saya?
Saat ini saya penulis penuh waktu, dalam arti saya tak terikat dengan perusahaan apa pun dan sebagian besar waktu saya didedikasikan untuk menulis. Saya menulis buku, satu buku saya sudah diterjemahkan ke bahasa Jepang (ini bisa menjadi gambaran, selain cetak ulang, penerjemahan juga bisa melipatgandakan penghasilan penulis buku dari royalti -- juga hitung seandainya novel diapdaptasi ke bentuk lain, misalnya film). Saya juga menulis untuk koran maupun majalah. Saya menjadi pembicara berbagai topik penulisan. Kadang saya menulis naskah untuk televisi. Saya juga kadang menjadi penulis hantu (saya menulis untuk orang lain tanpa menyebut nama saya). Oh ya, saya juga menulis blog (yang ini pro bono, hehe)!

Tapi saya harus jujur, tidak semua penghasilan saya berasal dari menulis. Saya juga memiliki proyek desain grafis, meskipun juga tidak terikat. Saya juga tak keberatan bekerja kantoran, tapi jika saya memerlukan waktu lebih luang (biasanya untuk proyek penulisan yang panjang seperti novel), saya berhenti dan mengurangi aktivitas yang lain.

Bagaimanapun, jika kamu punya pekerjaan yang menyenangkan (buatmu), mungkin ada baiknya tidak ditinggalkan. Kadang-kadang hal itu sangat membantu penulisan -- paling tidak memberi perspektif yang lebih luas untuk tulisan. Gabriel Garcia Marquez seorang wartawan -- kita bisa melihat pekerjaannya sebagai wartawan memberi pengaruh yang positif untuk karya-karya kreatifnya. Jorge Luis Borges penjaga perpustakaan -- dan tanpa itu saya kira cerpen-cerpennya tak akan seperti yang kita kenal. Umberto Eco seorang dosen. Ahmad Tohari seorang pemimpin sebuah pesantren. Dewi Lestari (Dee), seorang penyanyi. Dan mereka tetap bisa menulis, bukan? Bagus pula!

Semoga kamu juga!!!

Tapi di atas semuanya, hal yang sebenarnya paling penting ditanyakan, terutama buat saya adalah: Bisakah hidup “tanpa” menulis?

* Tips kreatif ini diunduh dari sini

13 comments:

purikajati said...

tulisan Anda sngat menginspirasi saya, hoby menulis saya selama ini belum tersalurkan.. semoga kelak saya bisa menjadi orang seperti Anda.. Amin.

Erda Rindrasih said...
This comment has been removed by the author.
Naira Nishwa said...

Terimakasih artikelnya sangat bagus... :))
salaam... http://dunia-naira.blogspot.com

fildzah hanifah said...

Terima kasih, artikelnya sangat bagus dan bermanfaat.
Semoga dengan hobi menulis saya yang belum tersalurkan. Kelak bisa seperti anda ;)

kemuning_keke said...

Inspiratif,,,

rohim blue said...

wawasan dan informasi semakin bertambah. Terimakasih ilmunya

Uginda Tri Handayani said...

Sangat bermanfaat. Terimakasih :)

Egi Kurniawan said...

puas sekali membaca blog ini

Egi Kurniawan said...

puas sekali membaca blog ini

Egi Kurniawan said...

puas sekali membaca blog ini

Agni Fauzan said...

maaf mba saya mau tanya kalau membuat novel minimalnya berpa halaman kah dalam satu judul?

Novel Nigella said...

Permisi izin promo.

Telah keluar NOVEL Terbaru karya Mahasiswa UMPAR, NIGELLA.

Novel ini memiliki banyak catatan kaki disetiap babnya. Mulai dari istilah kedokteran, kriminal, ilmu herbal dan psikologi.

Nigella membahas lebih dalam mengenai cinta anak yatim, anak single parent, broken home, orangtua adopsi, sahabat palsu dan cinta sejati.

Nigella juga memiliki gambar ilustrasi dan puisi kehidupan disetiap babnya. Selain menambah wawasan, ini juga bisa membantu imajinasi pembaca.

Nigella akan mengajak kamu jalan jalan memecahkan banyak teka teki dan misteri di kota Menton, Prancis. Kamu akan ditemani oleh banyak anak yatim jenius. tapi kamu juga akan bertemu psikopat dan pembunuh berdarah dingin.

Pesan segera dan kita akan bertemu di Nigella yg mendebarkan.

Price : Rp.55.000

Cara pesan : cukup kirim alamat lengkap kamu via inbox facebook, atau LINE dengan ID : larc-nigella, atau BBM : 51A5F3EB

Info detail www.larc-nigella.com Instagram penulis: jayadi_reiji

Prestasi NIGELLA :
- Peraih testimoni resmi Motivator wanita No.1 di Asia, Merry Riana
- Nominasi novel of the year Lasinrang Award 2015

NIGELLA, greater mystery than you think.

DOMINO206.COM said...

http://detik206.blogspot.com/2017/05/wow-keren-mengintip-salah-satu-koleksi.html

http://beritadomino2o6.blogspot.com/2017/05/ini-3-hal-yang-anda-perlu-ketahui.html

http://marimenujudomino206.blogspot.com/2017/05/sedang-tren-wanita-panjang-kan-bulu.html

http://jutawandomino206.blogspot.com/2017/05/penampakan-ular-piton-setelah-usai.html


HALLO TEMAN-TEMAN DAFTARKAN SEGERA DIDOMINO206.COM JUDI ONLINE TEPERCAYA & AMAN 100% !

SANGAT MUDAH MERAIH KEMENANGAN TUNGGU APALAGI AYO BURUAN DAFTARKAN:)

UNTUK PIN BBM KAMI : 2BE3D683